FB

FB


Ads

Selasa, 27 Oktober 2015

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 080

“Di mana aku....?” Ciang Bun membuka mata dan mengeluh.

“Tenanglah, Ciang Bun, tenanglah. Engkau berada di rumah Gu-sinshe, seorang tabib kenamaan di kota raja.”

“Ohhh....!”

Ciang Bun teringat dan meraba dadanya. Dadanya terasa sesak dan perutnya mual. Muak rasanya bau amis itu dan dia menahan diri agar tidak muntah. Ganggananda duduk di dekatnya dan dia rebah di atas pembaringan.

“Bagaimana rasanya, Ciang Bun?” tanya pemuda remaja itu dengan nada suara khawatir.

Ciang Bun teringat, memandang wajah tampan itu dan memaksa senyum.
“Nanda, engkau seorang sahabat baru akan tetapi ternyata engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang nyawa padamu, adik Nanda.”

“Sudahlah, tidak perlu bicara tentang hutang-pihutang. Yang penting sekarang ini menyembuhkanmu dari luka dalam penuh hawa beracun itu.”

“Hawa beracun? Di tubuhku? Ah, aku merasa dada sebelah kanan kadang-kadang panas kadang-kadang dingin dan ada rasa muak, bau amis.”

“Itulah! Menurut Gu-sinshe, engkau terkena pukulan beracun yang amat berbahaya.”

“Mana dia sekarang?”

“Dia sedang mengundang seorang hwesio tua ahli racun untuk datang memeriksamu.”

Ciang Bun merasa heran. Dia juga pernah mendengar nama Gu-sinshe sebagai seorang tabib yang pandai, bahkan kabarnya kadang-kadang dipanggil ke istana kaisar untuk memberi pengobatan dan pemeriksaan. Bagaimana kini tabib itu demikian memperhatikan dia, bahkan mengundang seorang ahli untuk memeriksanya?

“Nanda, apakah engkau mengenal baik tabib itu sehingga dia mau memperhatikan aku seperti ini?”

Ganggananda tersenyum dan jantung Ciang Bun berdebar keras. Dia terpaksa membuang muka karena senyum pemuda remaja itu seperti mencengkeram jantungnya dan membuatnya merasa aneh. Dia teringat bahwa beginilah perasaannya ketika dahulu dia dicium oleh Liu Lee Siang ketika pemuda itu mengajarnya menolong orang yang tenggelam atau kecelakaan di air.

“Ciang Bun, aku bingung ketika membawamu ke darat. Engkau pingsan terus dan segala usahaku untuk menyadarkanmu gagal. Terpaksa kau kubawa ke sini dan karena aku tahu bahwa seorang tabib terkenal tidak sembarangan mau mencurahkan perhatian kepada orang biasa, akupun lalu berkata bahwa engkau adalah seorang anggauta keluarga Suma dari Pulau Es. Benar saja dugaanku, mendengar ini dia tergopoh-gopoh memeriksamu dengan teliti, kemudian bahkan keluar untuk mengundang seorang hwesio kenalannya yang ahli tentang pukulan beracun.”

“Ahh....! Berapa lama aku pingsan?”

“Dua hari dua malam! Baru sekarang siuman, itupun setelah diberi obat tusuk jarum dan macam-macam oleh Gu-sinshe. Nah, menurut pesan Gu-sinshe, kalau engkau sudah sadar, aku harus menyuapimu dengan bubur encer ini. Makanlah.” Dan Ganggananda lalu menyuapkan sesendok bubur.

“Biar kumakan sendiri....!”

Ciang Bun hendak bangun, akan tetapi kepalanya seperti terputar-putar rasanya sehingga dia harus memejamkan mata kembali dan terpaksa merebahkan diri lagi.

“Nah, jangan rewel, biar kusuapkan. Makanlah.”

Baru habis beberapa suap, Ciang Bun tidak mau lagi.
“Rasanya semakin mual dan hendak muntah.”

Tiba-tiba seorang kakek masuk ke dalam kamar itu. Ciang Bun memandang dengan mata yang agak kabur. Seorang kakek berpakaian sasterawan yang tubuhnya jangkung kurus dan melihat pakaiannya dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu Gu-sinshe. Orang ke dua adalah seorang hwesio gendut yang mukanya riang dan selalu tersenyum, matanya lebar dan tajam.

“Inikah Suma-taihiap yang terkena pukulan beracun?” kata hwesio itu.

“Ah, untung taihiap memiliki tubuh yang kuat. Mudah-mudahan pinceng dapat menemukan racun apa yang telah dipergunakan orang untuk memukul taihiap sehingga sahabatku ini dapat memberikan obatnya yang tepat.”

“Terima kasih, locianpwe.” kata Ciang Bun.

Hwesio itu lalu membuka baju Ciang Bun, dibantu oleh Ganggananda dan dia lalu memeriksa seluruh tubuh Ciang Bun bagian atas, memijat sana-sini, menepuk sana-sini dan berkali-kali dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

“Taihiap, bagaimana rasanya kalau sebelah sini kutekan seperti ini?” Dan hwesio itu menekan dada kanan.

Ciang Bun menggigit bibirnya.
“Rasanya perih dan panas.”

“Dan taihiap mencium sesuatu?”

“Amis.... mau muntah....”

“Omitohud....! Tak salah lagi, taihiap terkena pukulan yang mengandung hawa racun katak buduk!”






“Eh, apakah itu? Aku belum pernah mendengarnya, dan apa obatnya?”

Hwesio itu menggeleng kepala.
“Masih untung bahwa seperti menurut ceritamu tadi, Sinshe, Suma-taihiap diselamatkan oleh sahabatnya yang membawanya ke sini. Terlambat akan celaka. Dan kalau dalam waktu tiga hari dia tidak memperoleh obatnya yang tepat, kurasa tidak akan ada obat yang dapat menolongnya lagi.”

“Apakah obat itu? Dan di mana bisa kudapatkan?” Ganggananda bertanya dengan lantang dan tak sabar.

“Obatnya hanya terdapat di tepi Sungai Huang-ho, akan tetapi pernah pinceng melihat katak buduk hitam di dalam rawa di sebelah utara kota raja yang serupa dengan katak-katak di Sungai Huang-ho itu. Katak buduk berkulit hitam yang matanya merah. Nah, kalau bisa didapatkan belasan ekor saja anak katak buduk itu, tentu Suma-taihiap ini akan dapat disembuhkan dari pengaruh racun pukulan Hoa-mo-kang.”

“Biar aku pergi mencarinya! Tunjukkan dan gambarkan di mana rawa itu, locianpwe.” kata Ganggananda.

Hwesio itu memandang wajah pemuda remaja itu dan menarik napas panjang.
“Omitohud, anda seorang pemuda yang baik sekali dan amat setia kawan. Akan tetapi, rawa itu terlalu jauh. Dengan menunggang kuda yang paling cepatpun, belum tentu akan dapat dilakukan pulang pergi selama tiga hari. Belum lagi waktu mencari anak katak itu.”

“Tapi aku dapat melakukannya, locianpwe!” kata Ganggananda penuh semangat.

Gu-sinshe menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang putih jarang.
“Bagaimana caranya, orang muda? Apa yang dapat berlari lebih cepat daripada seekor kuda yang baik?”

“Aku dapat, Sinshe. Lariku lebih cepat dari kuda. Lekas gambarkan di mana rawa itu dan bagaimana aku harus mencari anak-anak katak itu dan aku akan segera lari ke sana.”

Dua orang kakek itu saling pandang dan menggerakkan pundak seolah-olah tidak percaya kepada Ganggananda akan tetapi karena tidak ada jalan lain, si hwesio lalu menggambarkan di mana letak rawa-rawa di sebelah utara di luar tembok kota raja itu. Ternyata tempat itu memang amat jauh, naik turun gunung dan sudah dekat dengan Tembok Besar. Setelah memperoleh keterangan lengkap, Ganggananda merenggut buntalan pakaiannya.

“Aku pergi sekarang juga. Kau tunggulah aku, Ciang Bun!”

Dan sekali berkelebat, pemuda itupun lenyap dari dalam ruangan itu. Mereka semua hanya melihat bayangan berkelebat lenyap seolah-olah pemuda itu dapat menghilang dan merobah dirinya menjadi asap. Saking heran dan kagumnya, dua orang kakek itu lari ke jendela, membuka daun jendela dan memandang keluar. Dan mereka melihat sebuah titik hitam bergerak cepat jauh di depan dan sehentar saja lenyap. Mereka kembali saling pandang dan hwesio itu berbisik.

“Sinshe, hebat sekali orang muda itu, dan makin percayalah aku bahwa pendekar yang terluka itu memang benar keturunan para pendekar Pulau Es.”

Sementara itu, Ganggananda berlari cepat. Tidak mengherankan kalau dia dapat berlari secepat itu karena Ganggananda ini, seperti para pembaca tentu sudah dapat menduganya, adalah Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee, puteri dari Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi!

Dara yang kini sudah berusia tujuh belas tahun ini memang suka sekali berkelana. Sudah sering ia meninggalkan Bhutan, menjelajahi hutan-hutan dan pegunungan di sekitarnya sehingga kadang-kadang orang tuanya menjadi gelisah dan mencari-carinya.

Akan tetapi kesukaannya ini tidak pernah berkurang dan akhirnya, jalan satu-satunya untuk menenteramkan hati mereka, ayah dan ibu ini lalu menggembleng puteri mereka, menurunkan semua ilmu mereka agar puteri mereka menjadi seorang gadis yang tangguh dan cukup kuat untuk menjadi bekal pembela diri dalam perantauannya.

Wan Tek Hoat pendekar sakti yang di waktu mudanya pernah mempunyai julukan Si jari Maut mengajarkan ilmu-ilmu silatnya yang tinggi. Juga Syanti Dewi mengajarkan ilmu gin-kangnya yang hebat, yang dahulu dipelajarinya dari Bu-eng-kwi Ouw Yan Hwi.

Setelah menguasai banyak ilmu, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee pergi berangkat merantau menuju dunia timur (Tiongkok), yaitu negara tempat asal ayahnya. Sejak usia belasan tahun, ketika mulai gemar merantau, Hong Bwee suka menyamar sebagai pria dan ia memakai nama Ganggananda. Hal inipun dianjurkan oleh orang tuanya yang berpendapat bahwa sebagai pria, tentu puteri mereka tidak terlalu banyak menghadapi gangguan di waktu melakukan perjalanan seorang diri.

Dari seorang kakek pemain sandiwara di istana Raja Bhutan, Hong Bwee juga mempelajari cara berhias dan menyamar sebagai pria sehingga ia dapat membuat kulit mukanya nampak kasar, bahkan ia dapat menambah alisnya menjadi tebal dengan alis tempelan namun sama sekali tidak kentara kepalsuannya.

Demikianlah, dengan bekal semua kepandaian ini, dara yang sejak kecil digembleng bu (ilmu silat) dan bun (ilmu sastera) oleh orang tuanya itu, berangkat merantau sampai ia bertemu dengan Ciang Bun. Selain dibekali kepandaian, juga ia fasih berbahasa Han walaupun agak asing terdengarnya, dan iapun sudah banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang para tokoh dunia persilatan, baik para pendekar maupun para datuk sesat. Hal ini perlu diketahui agar ia dapat bersikap hati-hati kalau bertemu dengan para tokoh itu.

Raja Bhutan sendiri dan para pembesar tadinya merasa tidak setuju dan tidak rela melihat Hong Bwee yang mereka sayang itu, sebagai seorang gadis dewasa, pergi merantau sendiri sejauh itu. Akan tetapi, Syanti Dewi dan Tek Hoat menenangkan hati mereka.

Syanti Dewi mengingatkan bahwa ia sendiri di waktu masih gadisnya juga meninggalkan Bhutan dan merantau ke timur. Adapun Tek Hoat sendiri adalah seorang pendekar yang suka merantau, tentu saja tidak berkeberatan akan kesukaan puterinya. Di samping itu, bagaimana akan dapat mencegah kehendak Hong Bwee? Anak ini memiliki kekerasan hati melebihi ibunya, tidak mungkin kehendaknya dihalangi. Tidak mungkin merantainya di rumah. Kalau dihalangi tentu gadis itu malah akan minggat dan hal ini jauh lebih buruk daripada kalau gadis itu berangkat merantau dengan restu orang tuanya.

Biarpun demikian, diam-diam Raja Bhutan mengutus beberapa orang pengawal pilihan untuk membayangi dan melindungi gadis itu. Sialnya, tidak ada seorangpun di antara para pengawal itu yang mampu menandingi kecepatan lari Hong Bwee sehingga dalam waktu beberapa hari saja mereka sudah kehilangan jejaknya dan tertinggal jauh. Terpaksa mereka melanjutkan perjalanan ke timur dan mencari-cari karena mereka tidak tahu ke mana tujuan perjalanan gadis itu.

Demikianlah, dengan menyamar sebagai pria, Hong Bwee tiba di kotaraja. Ia merasa gembira sekali melihat kota raja yang besar, megah dan indah itu, jauh lebih besar dan lebih indah daripada kota raja Bhutan. Ketika ia bertemu dengan Suma Ciang Bun, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik perhatiannya.

Baru dara ini mengerti bahwa ada suatu persamaan atau kemiripan pada diri pemuda ini dengan Ceng Liong sehingga menarik perhatiannya ketika ia mendengar bahwa Ciang Bun adalah saudara sepupu Ceng Liong. Mendengar bahwa Suma Ciang Bun ini saudara sepupu Ceng Liong, hatinya merasa hangat dan tertarik. Bagaimanapun, ada hubungan akrab antara ibunya dan keluarga Pulau Es sehingga ia merasa seperti bertemu sahabat lama atau sanak keluarga ketika berjumpa dengan Ciang Bun.

Kini ia mengerahkan semua tenaga dan ilmunya berlari cepat untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu. Ia harus dapat mencari dan menemukan katak-katak buduk hitam dalam waktu tiga hari. Kalau ia berlari cepat, menurut perhitungannya setelah mendengar penjelasan hwesio ahli racun, dalam waktu sehari tentu ia akan dapat tiba di rawa yang dimaksudkan itu. Ia harus dapat menemukan obat itu. Ngeri ia membayangkan betapa pemuda yang tampan pendiam dan halus lagi gagah perkasa dan pandai bersajak itu akan mati konyol keracunan.

Ilmu berlari cepat Jouw-sang Hui-teng (Terbang Di Atas Rumput) dari Wan Hong Bwee memang hebat sekali. Tubuhnya ringan dan ia dapat berlari bagaikan terbang saja, dan dalam waktu sehari lebih, hanya berhenti untuk makan roti bekal dan minum air, ia telah tiba di tepi rawa.

Akan tetapi, hari telah malam dan cuaca gelap sekali. Tak mungkin dapat mencari katak buduk pada waktu malam gelap itu. Menurut keterangan hwesio ahli racun, katak-katak buduk hitam itu berkeliaran di waktu malam mencari mangsa.

Berbeda dari katak-katak biasa yang makan serangga biasa seperti semut, nyamuk dan sebagainya, katak buduk hitam mencari makanan serangga berbisa dan suka sekali makan binatang berbisa seperti kelabang, kalajengking, bahkan ular-ular kecil yang berbisa.

Hebatnya, katak ini tidak takut terhadap ular besar! Menurut hwesio itu, sukar menangkap anak-anak katak di waktu malam karena selain katak-katak besar itu berkeliaran, juga berbahaya menangkap katak besar.

Anak anaknya di waktu malam bersembunyi di dalam guha-guha kecil atau celah-celah batu, sukar ditemukan. Waktu yang tepat untuk menangkap adalah pada pagi hari di waktu induk-induk katak memberi makan anak-anaknya di tepi rawa dan memberinya makanan yang dimuntahkan dari perutnya.

Karena itulah, Hong Bwee lalu mencari tempat yang kering dan enak untuk melewatkan malam, tak jauh dari rawa itu. Ia mengumpulkan rumput kering, menumpuknya di bawah sebatang pohon. Kemudian ia mencari kayu kering dan membuat api unggun, bukan untuk melawan dingin karena tubuhnya yang terlatih itu mampu menahan hawa dingin maupun panas, melainkan untuk mengusir nyamuk.

Memang ia dapat melindungi tubuhnya dari gigitan nyamuk, akan tetapi bunyi nyamuk di sekitar telinga sungguh amat mengganggu dan membuatnya tidak dapat mengaso enak. Api unggun akan membuat nyamuk-nyamuk itu menjauhkan diri karena panas dan asap.

Akan tetapi, baru saja api unggun itu jadi, tiba-tiba ada angin menyambar kuat dan nyala api itu padam! Padamnya api membuat bara api pada kayu-kayu itu mengeluarkan asap yang memedihkan mata. Akan tetapi Hong Bwee maklum bahwa angin yang menyambar tadi bukanlah angin biasa, melainkan angin pukulan yang datangnya dari arah kiri, maka ia terkejut sekali dan cepat meloncat ke arah tempat itu. Dan benar saja, di dalam cuaca remang-remang yang hanya diterangi oleh jutaan bintang di langit, ia melihat sesosok tubuh seorang wanita tua yang agak bongkok.

“Engkaukah yang tadi memadamkan api unggunku?” tanya Hong Bwee ragu-ragu karena ia tidak tahu pasti apakah benar nenek bongkok ini yang memadamkan api dari jauh menggunakan angin pukulannya.

Nenek itu agaknya melihat kelincahan Hong Bwee ketika meloncat, maka iapun berkata dengan suara membela diri,

“Api itu akan menakutkan ular dan katak!”

Disebutnya katak membuat hati dara ini tertarik sekali. Ia mendekat, namun sikapnya waspada dan ternyata nenek itu menyembunyikan sebuah teng (lampu minyak) yang tertutup kertas tipis merah sehingga lampu itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang cukup menerangi wajah nenek itu ketika ia mengeluarkan lampu dari balik tubuhnya.

Kini Hong Bwee dapat melihat bahwa biarpun tubuhnya agak bongkok, ternyata wajah nenek ini menunjukkan tanda-tanda bahwa dahulu di waktu muda ia tentu memiliki wajah yang cantik. Juga pakaiannya bersih dan rapi, rambutnya disisir rapi.

“Nenek yang baik, apa maksudmu dengan ular dan katak?”

“Hi-hik,” nenek itu terkekeh. “Engkau melakukan perjalanan seorang diri dan berani tidur di tepi rawa, tentu engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian lumayan. Akan tetapi pernahkah engkau melihat betapa ular besar dibunuh seekor katak? Aku sedang mengintai seekor ular besar dan tiba-tiba engkau di sini membuat api unggun. Tentu saja ular dan kataknya akan ketakutan dan mana mungkin aku dapat menangkap ular itu?”

“Ah, maafkan aku, nek. Aku ingin sekali melihat engkau menangkap ular.”

Hati Hong Bwee tertarik sekali karena ia dapat menduga bahwa nenek ini tentulah seorang kang-ouw yang aneh dan berkepandaian tinggi. Hal ini terbukti dari keanehan sikap, bicara dan perbuatannya seperti ketika ia memadamkan api unggun tadi.

“Kau mau nonton? Heh-heh, boleh sekali. Mari ikut aku.”

Nenek itu membalikkan tubuhnya dan berjalan berindap-indap. Hong Bwee yang merasa tertarik sekali segera mendekati dan berjalan di dekat nenek itu.

“Engkau melarang aku membuat api unggun, akan tetapi engkau sendiri membawa lentera, apakah sinar lenteramu itu tidak akan menakutkan ular dan katak?”

“Heh-heh-heh, lentera ini merah, tidak akan menakutkan mereka. Sssttt.... sekarang diamlah....”

Nenek itu mendekati batu-batu besar di mana terdapat celah-celah dan ia mengeluarkan sebuah kantung hitam dari punggungnya, di mana tergantung buntalan besar. Kantong ini bergerak-gerak, tanda bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang bernyawa. Ketika nenek itu meneteskan arak dari sebuah guci ke mulut kantong hitam, terdengarlah bunyi “kok-kok-kok” keras sekali sehingga mengejutkan hati Hong Bwee.

Akan tetapi karena nenek ini sudah memberitahu agar diam, Hong Bwew tidak berani membuka mulut, hanya memandang penuh perhatian. Ia menujukan pandang matanya ke arah mata nenek itu memandang, yaitu ke arah sebuah celah besar di antara batu-batu hitam.

Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi berdesis, mula-mula perlahan, makin lama makin nyaring dan akhirnya dari celah-celah batu itu tersembul keluar sebuah kepala ular yang besarnya sekepalan tangan. Kembali nenek itu meneteskan arak dan kembali terdengar suara “kok-kok-kok” berkali-kali. Agaknya suara inilah yang menarik perhatian ular itu. Binatang itu kini keluar dari dalam celah batu dan ternyata tubuhnya sebesar betis orang dan panjangnya ada enam tujuh kaki! Seekor ular kembang yang besar dan agaknya lapar.

Dengan tangan kanannya, nenek itu memungut sebuah batu dan sekali tangan terayun, batu itu meluncur dan memasuki celah tadi, menutupnya. Bidikannya demikian tepat sehingga kembali Hong Bwee menyadari bahwa nenek ini memang lihai. Dan kini nenek itu membuka mulut kantong hitam dan melemparkan isinya ke arah sang ular. Kiranya isi kantong itu adalah seekor katak buduk hitam yang besarnya tiga empat kali katak biasa.

Akan tetapi dibandingkan dengan ular itu, katak ini tentu saja amat kecil dan sekali caplok tentu ular itu akan dapat melahapnya. Lemparan nenek itu tepat pula. Katak terlempar dan terbanting ke atas kepala ular, membuat kedua binatang itu terkejut dan segera bersiap siaga ketika saling berhadapan. Agaknya sang ular menganggap bahwa ia memperoleh mangsa, sebaliknya katak itu merasa berhadapan dengan seekor binatang yang menjadi musuh besarnya.

Hong Bwee semakin tertarik. Ia tahu bahwa katak adalah satu di antara binatang yang menjadi makanan ular. Akan tetapi ia sudah mendengar dari hwesio itu bahwa katak buduk hitam demikian berbahaya dan lihainya sehingga berani melawan seekor ular besar. Agaknya kini secara kebetulan ia akan menyaksikan pertunjukan yang tak masuk akal itu.

Ular itu memandang dengan mata beringas, mengangkat kepalanya dan mendesis-desis, agaknya marah melihat sikap katak yang menantang. Memang katak itu menantang, tubuhnya merendah, perutnya menempel tanah dan dari lehernya keluar bunyi “kok-kok-kok!” nyaring sekali. Semua ini dapat dilihat jelas oleh Hong Bwee, di bawah cahaya lentera merah yang agaknya tidak mengganggu kedua akor binatang yang sedang berlagak itu.

Tiba-tiba ular itu menyerang. Kepala yang diangkat itu bergerak meluncur ke depan dengan moncong terbuka, siap mencaplok. Akan tetapi katak itupun tiba-tiba menggunakan kaki belakangnya yang besar dan kuat itu, mengenjot tubuhnya menubruk ke depan, menyambut kepala ular dari samping dengan tak kalah cepat dan kuatnya.

“Plokkk!”

Tubuh bagian atas ular itu terpental dan ular itu kembali mengangkat kepala dan leher, menggoyang-goyang kepala seperti mengusir rasa pening. Lalu ia mendesis dan menyerang lagi. Kepalanya meluncur ke depan dengan moncong dibuka lebar hendak mencaplok ke arah katak. Katak itu meloncat ke samping mengelak dan tiba-tiba saja ia sudah melompat ke atas kepala ular itu dan menggigitnya.

“Bagus!” Ganggananda memuji kagum.

Akan tetapi ketika ular itu menggerak-gerakkan kepala untuk melepaskan diri dari terkaman katak tanpa hasil, ia menggerakkan ekornya menghantam dari atas ke arah katak di kepalanya. Katak itu amat cekatan dan cerdik sekali, cepat mengelak dengan lompatan ke bawah.

“Tarrr!”

Ekor ular itu melecut kepalanya sendiri! Kepalanya sudah terluka oleh gigitan katak, kini masih dicambuknya sendiri membuat binatang itu merasa kesakitan dan semakin marah. Iapun menyerang lagi dengan ganasnya. Serangan ini disambut oleh katak buduk hitam dengan suara “kok-kok-kok!” dari mulutnya dan keluarlah uap hitam disemburkan ke depan.

Agaknya sang ular kebal terhadap racun katak, akan tetapi matanya terkena uap hitam, menjadi nyeri dan iapun menggoyang kepala dengan gelisah. Kesempatan ini dipergunakan oleh katak hitam untuk meloncat dan menerkam lagi kepala ular, menggigit tengkuk yang agaknya menjadi sumber kekuatan ular. Ular itu mencoba untuk melepaskan diri dari gigitan. Akan tetapi tenaganya semakin lemah dan tubuhnya berkelojotan.

Tiba-tiba nenek itu menggerakkan tangannya dan kantong hitamnya sudah menubruk katak dan kepala ular. Sekali tangan kirinya dibacokkan miring ke arah leher ular, terdengar suara keras dan leher itupun hancur dan putus! Dan kini kepala ular dan katak itu sudah masuk kantong yang mulutnya cepat diikatnya kembali. Katak buduk hitam bergerak-gerak di dalam kantong, lalu terdengar suara katak berkokok disusul suara berkerotokan seolah-olah katak itu sedang menggerogoti tulang kepala ular. Ganggananda bergidik ngeri.

Nenek itu menyimpan kantongnya dalam buntalan, lalu menusuk ekor bangkai ular dengan kayu yang ditancapkan pada akar pohon. Direntangnya bangkai itu dan iapun merobek perut ular menggunakan kuku jari telunjuknya dan semua isi perut ular itupun dikeluarkan. Ganggananda memandang heran. Nenek itu mengangkat muka memandang dan terkekeh.

“Apakah engkau tidak merasa lapar, orang muda?”

“Kalau lapar mengapa, nek?” tanya Ganggananda tertegun mendengar pertanyaan aneh itu.

“Hi-hik, orang muda yang bodoh. Ular ini adalah ular kembang. Dagingnya gurih dan manis, pula menguatkan otot-otot kaki, berguna bagi perantau-perantau seperti kita yang suka berjalan kaki dan melakukan perjalanan jauh. Nah, sekarang buatlah api unggun, biar kupanggang daging ini dan nanti kita makan sambil bercakap-cakap.”

Ganggananda dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang luar biasa dan berilmu tinggi, dan yang dia yakin tentu tahu banyak tentang katak buduk hitam yang amat dibutuhkan itu. Maka diapun tidak mau membantah. Nenek ini harus dibaiki, pikirnya dan tentu dia dapat mengharapkan bantuan nenek ini untuk memperoleh obat bagi Ciang Bun.

Segera dia membuat api unggun yang cukup besar, bahkan membantu nenek itu ketika mulai memanggang daging ular yang sudah dikuliti dan dipotong-potong itu. Ternyata dagingnya putih bersih dan ketika dipanggang terciumlah bau sedap, apalagi karena nenek itu agaknya sudah membawa bekal bumbu. Terciumlah bawang dan garam yang membuat daging itu berbau sedap.

Ketika nenek itu mengajak Ganggananda makan, gadis yang menyamar pemuda inipun tidak menolak. Dan ternyata bahwa memang daging ular panggang itu lezat sekali! Nenek itupun mengeluarkan seguci arak sehingga lengkaplah kini hidangan mereka. Tanpa banyak cakap mereka makan dan nenek itu lahap sekali. Daging panggang itu diganyangnya panas-panas. Setelah daging ular itu habis, barulah nenek itu bicara.

“Orang muda, engkau seorang diri saja di tempat sunyi yang amat berbahaya ini, sebetulnya bermaksud apakah?”

“Nenek yang baik, memang ada kepentingan yang amat mendesak sehingga aku berada di tepi rawa ini, dan pertemuanku denganmu ini sungguh menggembirakan karena aku yakin bahwa engkau akan dapat membantuku sehingga aku akan berhasil dalam tugasku.”

Nenek itu mengerutkan alisnya dan terkena cahaya api unggun, wajahnya nampak kemerahan. Akan tetapi wajah itu tidak mengerikan, bahkan sebaliknya, wajah itu jelas membayangkan bahwa nenek itu amat cantik di waktu mudanya.

“Kepentingan? Tugas? Tugas apakah itu yang membawamu ke tepi rawa ini?”

“Aku harus mencarikan obat untuk orang yang keracunan pukulan Hoa-mo-kang.”

“Ihh! Su-ok sudah lama mampus dan pukulan jahat itu dibawanya mati. Siapa yang mampu melukai orang dengan pukulan Hoa-mo-kang?”

“Entahlah. Pokoknya, seorang sahabat baikku terkena pukulan itu dan menurut keterangan tabib yang ahli, obatnya harus dicari di tempat ini.”

“Katak buduk hitam?”

“Benar, nek, karena itu aku mengharapkan bantuanmu.”

“Engkau takkan berhasil!”

“Kenapa tidak? Menurut keterangan ahli itu, besok pagi aku akan dapat menangkap anak-anak katak di tepi rawa, diberi makan induknya.”

“Hi-hik, engkau tolol!”

Ganggananda mengerutkan alisnya, akan tetapi dia menahan kemarahannya.
“Hemm, mungkin juga, akan tetapi mengapa engkau menyebutku tolol? Dalam hal apa?”

“Engkau takkan berhasil, tak mungkin berhasil karena kini belum waktunya terdapat anak-anak katak. Tiga bulan lagi mungkin ada karena sekarang belum waktunya katak-katak itu bertelur. Yang ada hanyalah katak-katak buduk hitam besar dan engkau takkan mampu menangkap mereka.”

“Ahh....!” Ganggananda terkejut dan bingung, mukanya berobah pucat. “Lalu bagaimana baiknya? Sahabatku itu akan mati kalau selama tiga hari tidak memperoleh obat itu, nek.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar